Sumpah Pemuda dan Mimpi Kebangkitan Bangsa

POLITIK54 BACA

“Antara Harapan dan Kekhawatiran: Pemuda Hari Ini, Pemimpin Masa Depan”

Oleh: Nuryasin Suparmin

Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali mengenang Sumpah Pemuda 1928, sebuah tonggak sejarah yang menyatukan keberagaman dalam satu tekad: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia. Sumpah Pemuda bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan janji kebangsaan yang harus terus hidup dalam jiwa setiap generasi.

Namun, di tengah derasnya perubahan zaman, kita dihadapkan pada dua kenyataan: harapan terhadap potensi besar generasi muda dan kekhawatiran terhadap masa depan bangsa.

Di satu sisi, pemuda Indonesia memiliki akses ilmu pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan jaringan global yang luar biasa. Mereka berpotensi menjadi pelopor inovasi, penggerak ekonomi, penjaga demokrasi, dan pemimpin perubahan. Di sisi lain, kita perlu mewaspadai krisis keteladanan, lunturnya nilai-nilai moral, budaya individualisme, polarisasi di media sosial, serta kecenderungan mengejar popularitas tanpa kedalaman ilmu dan tanggung jawab.

Bangsa ini tidak cukup hanya memiliki pemuda yang cerdas, tetapi membutuhkan pemuda yang berintegritas. Tidak cukup melahirkan generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk kemaslahatan. Sebab, kemajuan tanpa moralitas dapat kehilangan arah, sedangkan kekuasaan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan kerusakan.

Ada ungkapan Arab yang patut menjadi renungan:

شَبَابُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ

Syabābul-yaumi rijālul-ghad.

“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.”

Karena itu, membangun masa depan bangsa tidak bisa hanya dengan menuntut pemuda agar siap memimpin. Kita juga harus menyiapkan pendidikan, ruang aktualisasi, kesempatan berkarya, dan lingkungan yang memungkinkan mereka tumbuh menjadi pemimpin yang amanah. Para pemuda perlu diberi kepercayaan, bukan sekadar nasihat; diberi kesempatan, bukan hanya kritik; serta dibimbing, bukan dibiarkan berjalan sendirian.

Di sinilah pentingnya perpaduan antara semangat generasi muda dan kebijaksanaan para tokoh senior. Sebuah ungkapan Arab menyatakan:

حَمَاسَةُ الشَّبَابِ وَحِكْمَةُ الشُّيُوخِ

Ḥamāsatusy-syabābi wa ḥikmatusy-syuyūkh.

“Semangat para pemuda dan kebijaksanaan para orang tua.”

Semangat tanpa kebijaksanaan berisiko melahirkan tindakan tergesa-gesa. Sebaliknya, kebijaksanaan tanpa keberanian melakukan perubahan dapat membuat bangsa berjalan lambat. Karena itu, keduanya harus dipertemukan: yang muda membawa energi dan gagasan baru, yang senior membagikan pengalaman dan kebijaksanaan. Bukan saling meniadakan, melainkan saling menguatkan; bukan berebut ruang, melainkan bergandengan tangan membangun masa depan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengingatkan bahwa kebangkitan bangsa harus dimulai dari perubahan kualitas manusia: cara berpikir, karakter, etos kerja, tanggung jawab, dan kesediaan berkontribusi bagi sesama.

Mimpi kebangkitan bangsa tidak akan terwujud hanya dengan mengenang keberanian pemuda masa lalu, tetapi dengan menghadirkan keberanian, integritas, dan persatuan pemuda pada masa kini. Sumpah Pemuda harus menjadi energi untuk merawat kebinekaan, melawan korupsi, memperjuangkan keadilan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memastikan kemajuan benar-benar dirasakan seluruh rakyat.

Pada akhirnya, Indonesia tidak boleh kehilangan harapan kepada pemudanya, dan para pemuda tidak boleh kehilangan teladan dari para pendahulunya.

Mari kita rajut kembali persatuan lintas generasi. Biarkan semangat kaum muda menyalakan api perubahan, dan biarkan kebijaksanaan para tokoh menjaga agar api itu menerangi jalan, bukan membakar persaudaraan.

Sumpah Pemuda adalah warisan sejarah, persatuan adalah kekuatan, karakter adalah fondasi, dan kebangkitan bangsa adalah tanggung jawab bersama.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Berbeda generasi, satu visi; berbeda gagasan, satu tujuan; bersatu membangun Indonesia yang adil, maju, bermartabat, dan berkeadaban.

*Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Bekasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *