MUI dan Seruan Perdamaian: Ketika Diplomasi Dipertanyakan di Tengah Dentuman Konflik

PEMERINTAHAN292 BACA

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, suara dari Jakarta turut menggema. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mengecam keras serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Bagi MUI, tindakan tersebut bukan hanya operasi militer biasa, melainkan pemicu eskalasi konflik regional yang berpotensi merusak perdamaian dunia.

Pernyataan sikap itu disampaikan dalam suasana keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. MUI menilai serangan tersebut mencerminkan pendekatan kekuatan yang bertolak belakang dengan semangat dialog dan keadilan internasional.

Menggugat Efektivitas Board of Peace

Sorotan tajam MUI tidak hanya tertuju pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat, tetapi juga pada posisi Indonesia dalam Board of Peace (BoP), sebuah inisiatif internasional yang melibatkan Washington.

Menurut MUI, keterlibatan Indonesia dalam BoP patut dievaluasi secara serius. Lembaga tersebut mempertanyakan efektivitas forum itu dalam mewujudkan perdamaian yang adil dan berimbang. Dalam pandangan MUI, strategi yang dijalankan BoP justru memperkuat arsitektur keamanan global yang dinilai timpang dan tidak menunjukkan komitmen nyata terhadap keadilan, khususnya terkait perjuangan kemerdekaan Palestina.

Karena itu, MUI mendesak pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan pencabutan keanggotaan dari BoP. Seruan ini menjadi bagian dari tekanan moral agar kebijakan luar negeri Indonesia tetap sejalan dengan prinsip bebas aktif serta amanat konstitusi yang menolak penjajahan dalam segala bentuknya.

Kritik Terhadap Kepemimpinan AS

Dalam pernyataannya, MUI juga menilai kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bersama sekutunya, telah merusak tatanan perdamaian dunia. Bahkan, MUI menyebut tindakan tersebut menunjukkan bahwa BoP semakin kehilangan legitimasi sebagai instrumen perdamaian sejati.

Nada pernyataan itu mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap pendekatan yang dianggap mengedepankan kekuatan militer dibanding diplomasi. MUI menegaskan bahwa perdamaian tidak bisa dibangun di atas fondasi kekerasan dan dominasi.

Diplomasi Indonesia di Persimpangan

Seruan MUI menempatkan pemerintah Indonesia pada posisi strategis sekaligus sensitif. Di satu sisi, Indonesia memiliki tradisi diplomasi yang menekankan dialog, solidaritas terhadap Palestina, serta peran aktif dalam menjaga stabilitas global. Di sisi lain, keterlibatan dalam berbagai forum internasional sering kali menuntut keseimbangan antara idealisme dan realitas geopolitik.

Apakah Indonesia akan meninjau kembali keanggotaannya dalam BoP? Pertanyaan itu kini mengemuka di ruang publik.

Yang jelas, pernyataan MUI menjadi cerminan bahwa dinamika konflik global tak pernah benar-benar jauh dari Indonesia. Dalam dunia yang semakin terhubung, setiap dentuman di kawasan lain bisa bergaung hingga ke ruang-ruang diskusi nasional.

Di tengah arus ketidakpastian global, satu pesan yang disuarakan MUI terdengar tegas: perdamaian sejati hanya lahir dari keadilan, bukan dari kekuatan senjata. (ib)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *