Iran Dorong Aliansi Keamanan Timur Tengah Tanpa AS dan Israel, Ketegangan Kawasan Menguat

PEMERINTAHAN344 BACA

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali mengemuka setelah Iran secara terbuka mengajak negara-negara di kawasan untuk membentuk aliansi keamanan dan militer baru—tanpa melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Seruan tersebut disampaikan oleh juru bicara Komando Pertahanan Udara Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, dalam sebuah pesan video yang ditujukan kepada negara-negara Arab dan Islam. Dalam pernyataannya, Zolfaghari menegaskan bahwa keamanan kawasan tidak lagi dapat bergantung pada kekuatan eksternal.

“Sudah saatnya membentuk aliansi keamanan tanpa kehadiran AS dan Israel,” ujarnya, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Narasi Kemandirian Kawasan

Ajakan Teheran mencerminkan dorongan lama Iran untuk membangun tatanan keamanan regional berbasis kekuatan internal negara-negara Timur Tengah. Dalam narasinya, Zolfaghari menyebut dinamika konflik terbaru sebagai “fase baru” yang menempatkan Iran di garis depan dalam membela kepentingan dunia Islam.

Ia juga mengaitkan gagasan tersebut dengan nilai-nilai religius, dengan menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar dalam membangun sistem keamanan kolektif. Menurutnya, persatuan negara-negara Muslim menjadi kunci untuk menciptakan stabilitas yang berkelanjutan.

Namun, gagasan tersebut muncul di tengah realitas politik kawasan yang kompleks, di mana rivalitas lama, kepentingan nasional, dan aliansi global masih memainkan peran besar.

Respons Keras dari Teluk

Di sisi lain, negara-negara Teluk menunjukkan sikap berbeda. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, menilai Iran telah salah membaca situasi jika menganggap negara-negara Teluk tidak mampu merespons kebijakan Teheran.

Ia menegaskan bahwa tindakan Iran justru berpotensi memperdalam isolasi internasionalnya. Menurutnya, kepercayaan terhadap Iran telah runtuh akibat dugaan serangan berulang terhadap negara-negara Teluk dan pelanggaran prinsip bertetangga baik.

Faisal bahkan menuding Teheran menjalankan kebijakan “pemerasan” demi mencapai tujuan strategisnya. Ia juga mengungkapkan bahwa negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) kini tengah memperkuat koordinasi untuk menghadapi potensi ancaman dari Iran.

Kawasan di Persimpangan

Wacana pembentukan aliansi keamanan baru ini menempatkan Timur Tengah pada persimpangan penting. Di satu sisi, ada dorongan untuk membangun kemandirian regional tanpa campur tangan kekuatan global. Di sisi lain, terdapat kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan dan fragmentasi di antara negara-negara kawasan itu sendiri.

Sejumlah analis menilai bahwa usulan Iran berpotensi memperdalam polarisasi, terutama jika tidak diiringi dengan upaya membangun kepercayaan di antara negara-negara yang selama ini berada dalam posisi saling curiga.

Dengan dinamika yang terus berkembang, masa depan arsitektur keamanan Timur Tengah tampaknya akan sangat ditentukan oleh sejauh mana negara-negara kawasan mampu menjembatani perbedaan—atau justru semakin terjebak dalam rivalitas yang berkepanjangan. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *