Palestine
Malam di Yerusalem kembali pecah oleh dentuman. Sirene meraung panjang, memantul di antara bangunan batu tua dan lorong-lorong kota suci itu. Warga berlarian menuju tempat perlindungan, sementara cahaya kilatan di langit menjadi penanda bahwa babak baru eskalasi tengah berlangsung.
Pada Senin (2/3/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa rudal mereka menghantam kantor Perdana Menteri Israel dalam gelombang serangan ke-10. Dalam pernyataan resmi yang dikutip sejumlah media regional, IRGC menyebut target tersebut sebagai bagian dari “serangan kejutan rudal Kheibar” yang disebut menghantam keras pusat pemerintahan Israel.
Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung: nasib Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum diketahui. IRGC menyatakan informasi lanjutan akan diumumkan kemudian, menambah ketegangan di tengah situasi yang sudah memanas.
Sirene dan Ledakan
Sejak Ahad (1/3/2026), Iran mengintensifkan serangan ke sejumlah kota di Israel. Yerusalem menjadi salah satu titik yang terdampak paling keras. Sedikitnya tujuh orang dilaporkan terluka, satu di antaranya dalam kondisi kritis setelah rudal menghantam wilayah kota.
Ledakan besar terdengar berulang kali. Saksi mata menyebut sedikitnya lima dentuman mengguncang Yerusalem, Tel Aviv, dan area sekitarnya pada Ahad pagi. Di utara, Haifa juga tak luput dari suara ledakan kuat yang menggetarkan bangunan.
Di Tel Aviv, serpihan rudal dilaporkan jatuh di beberapa titik, merusak bangunan dan memicu kepanikan. Harian lokal melaporkan material kerusakan ditemukan di sejumlah gedung, sementara layanan ambulans menyatakan beberapa warga terluka saat bergegas menuju tempat perlindungan.
Sirene peringatan tak hanya meraung di pusat kota. Wilayah Dimona, Negev, kawasan Laut Mati, hingga sebagian selatan Israel juga mengaktifkan alarm darurat. Pemerintah Israel kemudian memperpanjang status darurat nasional hingga 12 Maret, menandai betapa seriusnya ancaman yang dihadapi.
Di Beit Shemesh, Yerusalem barat, layanan ambulans mengumumkan jumlah korban tewas akibat serangan rudal meningkat menjadi sembilan orang. Secara keseluruhan, korban tewas di Israel sejak dimulainya serangan balasan Iran pada Sabtu dilaporkan mencapai 12 orang, dengan sekitar 500 lainnya mengalami luka-luka.
Rantai Balasan
Eskalasi ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ketegangan di Timur Tengah melonjak tajam setelah serangan gabungan Amerika Serikat–Israel dilaporkan menewaskan sejumlah pemimpin penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Dua jam setelah serangan tersebut, Iran meluncurkan gelombang balasan berupa drone dan rudal, tidak hanya ke Israel tetapi juga ke sejumlah wilayah di Timur Tengah yang menjadi lokasi pangkalan udara Amerika Serikat. Sejak itu, serangan demi serangan terus berlanjut, membentuk pola balas-membalas yang kian sulit diputus.
Di tengah rentetan pernyataan militer dan klaim keberhasilan masing-masing pihak, warga sipil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Malam-malam tanpa kepastian, hari-hari dengan bayang-bayang sirene, dan pertanyaan yang belum terjawab tentang seberapa jauh konflik ini akan meluas.
Gelombang kesepuluh mungkin telah diluncurkan. Namun di kawasan yang telah lama bergulat dengan konflik, banyak yang khawatir bahwa ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari babak yang lebih panjang—sebuah eskalasi yang menunggu arah berikutnya di antara puing, diplomasi yang tersendat, dan langit yang masih belum benar-benar tenang. (iB)



















