71 Tahun KAA: Dari Meja Diplomasi ke Arena Panas! Indonesia Diuji di Tengah Gempuran Kekuatan Besar

POLITIK77 BACA

BANDUNG – Peringatan 71 tahun Konferensi Asia-Afrika pada Sabtu (18/4/2026) tak lagi sekadar seremoni penuh nostalgia. Di tengah situasi global yang kian panas, momen ini berubah jadi pengingat keras: Indonesia harus bersiap menghadapi tekanan geopolitik yang makin brutal.

Dari Gedung Merdeka, tempat lahirnya Dasasila Bandung, gaung perlawanan terhadap dominasi kekuatan besar kembali digaungkan. Dulu, tahun 1955, para tokoh dunia seperti Ali Sastroamidjojo dan Jawaharlal Nehru merumuskan sikap tegas: dunia tidak boleh tunduk pada blok kekuatan mana pun.

Kini, situasi serupa kembali terulang. Rivalitas antarnegara besar, konflik wilayah, hingga tekanan ekonomi global membuat banyak negara berkembang terjepit. Indonesia pun tak kebal dari ancaman tersebut.

“Ini bukan lagi soal sejarah, ini soal bertahan hidup di tengah pusaran konflik global,” ujar Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir dengan nada tegas.

Semangat Dasasila Bandung kembali diangkat sebagai “senjata moral”. Prinsip menghormati kedaulatan, menolak intervensi asing, hingga hak mempertahankan diri dinilai masih relevan—bahkan mendesak—untuk diterapkan saat ini.

Indonesia, dengan politik luar negeri bebas-aktif, memilih tetap berdiri di jalurnya sendiri. Tak mau terseret arus blok Barat maupun Timur, namun tetap agresif menjaga kepentingan nasional.

Tak hanya di level global, sorotan juga tertuju pada penguatan dalam negeri. Ketahanan ekonomi, budaya, hingga pertahanan disebut sebagai kunci agar Indonesia tak mudah ditekan.

Di sisi lain, lonjakan pengunjung di Museum Konferensi Asia-Afrika selama pekan peringatan (18–24 April 2026) menunjukkan kesadaran publik mulai bangkit. Generasi muda dinilai mulai membuka mata: Indonesia punya sejarah besar dalam mengubah arah dunia.

Tiga pesan keras pun digaungkan:

pendidikan sejarah harus diperkuat, stabilitas daerah dijaga, dan pertahanan nasional wajib diperketat.

“Kalau kita lemah, kita akan digilas. Tapi kalau kita solid, Indonesia bisa jadi pemain, bukan korban,” tegas sumber tersebut.

Peringatan KAA kali ini menjadi lebih dari sekadar mengenang masa lalu. Ini alarm keras bagi bangsa: di tengah dunia yang makin liar, hanya negara yang kuat dan mandiri yang bisa bertahan. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *