Optimalkan Kinerja Perusahaan, Perumda Tirta Bhagasasi Evaluasi Seluruh Kerja Sama Pengadaan Air Curah

EKBIS176 BACA

Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi

Di tengah meningkatnya kebutuhan air bersih di Bekasi, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Bhagasasi memilih untuk tidak sekadar “mengalirkan” layanan, tetapi juga membenahi fondasi bisnisnya. Awal April 2026 menjadi titik refleksi penting, ketika jajaran Dewan Pengawas (Dewas) dan Direksi berkumpul dalam sebuah rapat koordinasi yang sarat makna: mengevaluasi seluruh kerja sama pengadaan air curah yang telah berjalan lebih dari satu dekade.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Sejak 2011, Perumda menggandeng berbagai mitra swasta untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, di tengah keterbatasan modal pemerintah daerah kala itu. Kerja sama tersebut menjadi solusi cepat—bahkan bisa disebut sebagai “penyelamat”—bagi distribusi air di wilayah yang terus berkembang pesat. Namun waktu berjalan, kondisi berubah, dan tantangan baru pun muncul.

Di ruang rapat yang dihadiri para pemangku kebijakan perusahaan, nada yang mengemuka bukanlah penyesalan masa lalu, melainkan semangat menatap ke depan. Ketua Dewan Pengawas, Ani Gustini, menegaskan bahwa evaluasi adalah bagian wajar dalam dinamika bisnis.

“Yang terpenting bukan siapa yang memulai kerja sama itu, tetapi apakah hari ini masih memberikan manfaat,” ujarnya. Pernyataan tersebut mencerminkan sikap profesional yang berorientasi pada masa depan, bukan terjebak pada keputusan masa lampau.

Senada dengan itu, Direktur Utama Reza Lutfi menempatkan efisiensi dan penguatan bisnis sebagai prioritas utama tahun ini. Evaluasi kerja sama tidak hanya dilihat dari sisi administratif, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesehatan finansial perusahaan dan kualitas layanan kepada masyarakat.

Bagi Perumda Tirta Bhagasasi, kerja sama pengadaan air curah bukan sekadar kontrak bisnis. Ia adalah bagian dari ekosistem pelayanan publik yang harus terus dijaga relevansinya. Ketika biaya meningkat, distribusi tersendat, atau kesepakatan tak lagi seimbang, maka evaluasi menjadi keniscayaan.

Di balik kebijakan ini, tersimpan harapan yang lebih besar: memastikan air bersih tetap mengalir ke rumah-rumah warga Bekasi tanpa hambatan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah perusahaan daerah tidak hanya diukur dari laporan keuangan, tetapi juga dari seberapa luas dan merata layanan yang bisa dirasakan masyarakat.

Evaluasi ini pun menjadi semacam “pemetaan ulang aliran”—bukan hanya aliran air, tetapi juga aliran kerja sama, investasi, dan strategi bisnis. Dengan meninjau kembali kemitraan yang ada, Perumda berupaya menemukan keseimbangan baru yang lebih adaptif terhadap kondisi ekonomi dan operasional saat ini.

Langkah ini mungkin tidak langsung terasa oleh pelanggan. Tidak ada perubahan drastis yang terlihat di keran air rumah tangga. Namun di balik layar, keputusan-keputusan penting sedang diambil untuk memastikan bahwa aliran itu tetap stabil—hari ini, esok, dan di masa depan.

Pada akhirnya, cerita ini bukan hanya tentang evaluasi kerja sama. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah perusahaan daerah berusaha bertahan, berbenah, dan terus bergerak maju di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks. Sebuah upaya sunyi, namun krusial, agar kebutuhan paling dasar—air bersih—tetap menjadi hak yang mudah dijangkau oleh setiap warga. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *