Muharram: Bulan Allah yang Mengajak Umat Berhijrah dan Bermuhasabah

POLITIK53 BACA

Oleh: Ustadz Nuryasin, Lc

Setiap pergantian tahun Hijriyah selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi umat Islam. Bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, datangnya bulan Muharram membawa pesan spiritual yang mendalam tentang hijrah, perbaikan diri, dan penguatan keimanan kepada Allah SWT.

Muharram merupakan salah satu bulan yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Keutamaannya tidak hanya disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah ﷺ, tetapi juga tercermin dalam berbagai peristiwa besar yang terjadi di dalamnya.

Muharram, Bulan yang Dimuliakan

Secara bahasa, kata Muharram berasal dari kata ḥarrama yang berarti “diharamkan” atau “dimuliakan”. Sejak masa Arab pra-Islam, bulan ini telah dihormati sehingga peperangan dan pertumpahan darah dilarang dilakukan.

Dalam Islam, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa empat bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Karena kemuliaannya, para ulama menerangkan bahwa amal saleh yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai pahala yang lebih besar, sementara perbuatan maksiat pun lebih berat dosanya dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Satu-satunya Bulan yang Disebut “Bulan Allah”

Keistimewaan Muharram semakin terlihat ketika Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai Syahrullah atau “Bulan Allah”.

Beliau bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.”
(HR. Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa penyandaran nama Muharram kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keagungan yang luar biasa. Tidak ada bulan lain dalam kalender Hijriyah yang secara khusus mendapat penyebutan seperti ini.

Imam An-Nawawi رحمه الله menegaskan bahwa penyebutan “Bulan Allah” merupakan bentuk penghormatan dan pengagungan Allah terhadap bulan Muharram.

Awal Tahun yang Sarat Makna

Muharram juga menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Penetapan kalender Islam dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه.

Meski peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat memilih Muharram sebagai awal tahun Hijriyah karena pada bulan inilah kaum Muslim mulai mempersiapkan diri untuk hijrah setelah Bai’at Aqabah.

Karena itu, Muharram identik dengan semangat perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perpindahan hati dan perilaku:

  • Hijrah dari syirik menuju tauhid.
  • Hijrah dari maksiat menuju ketaatan.
  • Hijrah dari kemalasan menuju produktivitas.
  • Hijrah dari kezaliman menuju keadilan.
  • Hijrah dari kelalaian menuju kedekatan dengan Allah SWT.

Hari Asyura dan Pertolongan Allah

Salah satu peristiwa penting yang terjadi pada bulan Muharram adalah diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura. Mereka menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari kemenangan Nabi Musa atas Firaun.

Mendengar hal itu Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian beliau berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukannya.

Kisah Nabi Musa AS menjadi pelajaran besar bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi hamba yang beriman dan bertawakal.

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
(QS. Asy-Syu’ara: 62)

Keutamaan Puasa Asyura

Puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram memiliki keutamaan yang sangat besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.”
(HR. Muslim)

Yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.

Untuk menyelisihi tradisi Yahudi, Rasulullah ﷺ juga menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram atau Tasu’a.

Karena itu para ulama menganjurkan beberapa pilihan:

  • Puasa 9 dan 10 Muharram (yang paling utama).
  • Puasa 10 dan 11 Muharram.
  • Puasa 9, 10, dan 11 Muharram.

Momentum Muhasabah dan Pembaruan Iman

Muharram adalah saat yang tepat untuk melakukan evaluasi diri. Pergantian tahun Hijriyah seharusnya menjadi momentum muhasabah, menghitung kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.

Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah berpesan:

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Sudahkah ibadah kita semakin baik? Sudahkah akhlak kita semakin mulia? Sudahkah hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia semakin berkualitas?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya mengiringi datangnya tahun baru Hijriyah.

Penutup

Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Islam. Ia adalah bulan yang dimuliakan Allah, bulan yang dipenuhi pesan hijrah, muhasabah, dan penguatan keimanan.

Di dalamnya terdapat Hari Asyura yang penuh keberkahan, kesempatan memperbanyak puasa dan amal saleh, serta pengingat bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi hamba-Nya yang beriman.

Memasuki Muharram, marilah kita menjadikannya sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bertakwa, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Sebab hakikat tahun baru Hijriyah bukanlah bertambahnya usia, melainkan bertambahnya kualitas iman dan amal saleh kita.

  • Anggota DPRD Kabupaten Bekasi dari Fraksi PKS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *