Pertamax Mahalnya Ampun-ampunan, Untung Saja Pertalite Sama Biosolar Gak Ikut Ngamuk!

EKBIS72 BACA
JAKARTA — Deru mesin kendaraan yang mengantre di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Jakarta Pusat pagi ini terasa sedikit berbeda. Di depan papan digital penunjuk harga, beberapa pengendara tampak menatap nanar angka baru yang tertera di sana. Mulai hari ini, 10 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga resmi menetapkan harga baru untuk lini bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mereka, Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95.
Bagi sebagian pemilik kendaraan, penyesuaian ini adalah pil pahit yang harus ditelan akibat fluktuasi pasar global. Harga Pertamax (RON 92) yang sebelumnya bertengger di angka Rp 12.300 per liter, kini melonjak cukup signifikan menjadi Rp 16.250 per liter.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan yang matang. Di balik layar, dinamika harga minyak mentah dunia dan pergerakan pasar keekonomian global terus menekan pasokan energi domestik. Pertamina, sebagai garda utama penyedia energi nasional, dipaksa lincah menari di antara regulasi ketat dan tuntutan keberlangsungan bisnis.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa keputusan ini merupakan buah dari evaluasi berkala yang sangat ketat. Pertamina tidak berjalan sendiri; setiap angka yang berubah telah melewati meja koordinasi bersama pemerintah selaku regulator.
“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah,” ujar Roberth dalam keterangan resminya.

Ia menambahkan, kebijakan ini adalah bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan menjaga keseimbangan tiga pilar utama : Keberlangsungan bisnis penyediaan energi. Kualitas layanan di setiap ujung nosel SPBU. Kepastian pasokan agar tidak terjadi kelangkaan di masyarakat.
Bagi Pertamina, penyesuaian ini adalah langkah realistis demi menjaga roda distribusi BBM berkualitas tetap berputar optimal dari Sabang sampai Merauke.
Di tengah kekhawatiran masyarakat akan dampak lanjutan dari kenaikan ini, Pertamina melempar sinyal ketenangan terkait pasokan. Roberth menjamin bahwa masyarakat tidak perlu melakukan panic buying karena stok di lapangan dipastikan berada dalam kondisi aman.
“Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina,” tegasnya. Untuk transparansi, masyarakat juga diimbau memantau pergerakan harga riil secara berkala melalui kanal resmi, media sosial Pertamina Patra Niaga, atau aplikasi MyPertamina.
Namun, di balik kabar meroketnya harga Pertamax series, pemerintah dan Pertamina masih memberikan ruang napas bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Komitmen untuk menjaga daya beli rakyat kecil diwujudkan dengan tidak mengubah harga BBM bersubsidi.
Hingga saat ini, harga Pertalite tetap dipatok di angka Rp 10.000 per liter, sementara Biosolar bertahan tangguh di angka Rp 6.800 per liter. Kebijakan “dua kaki” ini sengaja diterapkan agar kelompok masyarakat yang paling rentan tidak langsung terhantam oleh badai inflasi energi global.
Kini, di tengah harga minyak dunia yang terus bergejolak, penyesuaian harga BBM non-subsidi menjadi cerminan nyata dari upaya Indonesia bertahan: menjaga bisnis energi tetap sehat, sembari memastikan dapur masyarakat bawah tetap bisa mengepul. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *