Sekolah Elit Dicoret dari MBG? Biar yang Membutuhkan Dulu!

PENDIDIKAN46 BACA

Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi

Ketika pemerintah mulai mengevaluasi penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG), muncul pertanyaan yang mengundang perdebatan: apakah sekolah-sekolah elit masih perlu mendapatkan program tersebut?

Bagi CEO Yayasan Global Mulia Cikarang, H. Teguh Wibowo, langkah evaluasi tersebut justru dapat menjadi momentum untuk memastikan bantuan negara benar-benar sampai kepada kelompok yang paling membutuhkan.

Menurutnya, tidak menjadi persoalan apabila sekolah-sekolah yang secara ekonomi tergolong mampu tidak lagi menjadi prioritas penerima MBG. Yang terpenting, kata dia, program tersebut mampu menjalankan fungsi pemerataan dan redistribusi manfaat secara lebih tepat sasaran.

“Tidak mengapa sepanjang tujuannya untuk revitalisasi dan redistribusi program. Salah satunya dengan mengevaluasi penerima manfaat MBG di sekolah-sekolah yang tergolong mampu atau elit,” ujar H. Teguh.

Di tengah keterbatasan anggaran dan luasnya cakupan kebutuhan gizi anak Indonesia, Teguh menilai fokus program sebaiknya diarahkan kepada siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, wilayah tertinggal, serta daerah terpencil yang masih menghadapi berbagai keterbatasan akses pangan bergizi.

Menurutnya, kelompok inilah yang sesungguhnya membutuhkan perhatian lebih besar dari negara.

“Tujuan MBG akan lebih mengena kepada siswa-siswi di sekolah yang kurang mampu, masyarakat miskin, daerah tertinggal, maupun daerah terpencil. Mereka lebih membutuhkan,” katanya.

Lebih jauh, H. Teguh menegaskan bahwa persoalan utama bukan semata siapa yang menerima, melainkan bagaimana program tersebut dijalankan. Ia menilai keberhasilan MBG akan sangat ditentukan oleh tata kelola yang baik, pengawasan yang ketat, serta transparansi dalam penggunaan anggaran.

“Prinsipnya adalah amanah, akuntabel, dan transparan,” tegasnya.

Bagi dunia pendidikan, program MBG tidak sekadar menyediakan makanan gratis di sekolah. Program ini membawa misi besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini melalui pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai.

Teguh menilai masih banyak anak-anak di berbagai pelosok yang membutuhkan intervensi gizi agar dapat tumbuh sehat, belajar optimal, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.

“Mereka termasuk yang perlu ditingkatkan gizinya,” ujarnya.

Di tengah berbagai dinamika pelaksanaan MBG, pandangan tersebut mengingatkan bahwa esensi kebijakan publik bukanlah membagi secara merata kepada semua pihak, melainkan memastikan bantuan hadir terlebih dahulu bagi mereka yang paling membutuhkan. Ketika setiap rupiah anggaran mampu menyentuh kelompok rentan secara tepat sasaran, maka manfaat program tidak hanya terasa di ruang kelas, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas generasi bangsa. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *