Kota Bekasi
Senja belum benar-benar turun ketika aroma kolak dan gorengan mulai memenuhi udara di kawasan Grand Kamala Lagoon. Deretan tenda UMKM berjajar rapi, lampu-lampu temaram menyala, dan pengunjung perlahan memadati area bazar Ramadhan. Di tengah hiruk-pikuk itulah, sebuah booth biru dengan logo Bank Rakyat Indonesia berdiri mencolok, menawarkan sesuatu yang berbeda dari sekadar takjil: transformasi digital.
Sejak 21 Februari hingga 12 Maret 2026, BRI Branch Office Bekasi menghadirkan Program Berkah Ramadhan—sebuah inisiatif yang memadukan nuansa religius bulan suci dengan dorongan inklusi keuangan. Sasarannya jelas: para pedagang takjil dan pelaku UMKM di kampung Ramadhan.
“Momentum Ramadhan adalah waktu yang tepat. Aktivitas ekonomi meningkat, masyarakat lebih terbuka, dan kebutuhan transaksi juga melonjak,” ujar Debby, PIC program, di sela kesibukan melayani pengunjung.
Program ini menawarkan reward Rp75.000 bagi pembukaan rekening tabungan BRImo baru. Sementara itu, pelaku usaha yang mendaftarkan QRIS baru di area bazar memperoleh reward Rp50.000. Skema insentif ini bukan semata promosi musiman, melainkan strategi jemput bola untuk memperluas penggunaan layanan perbankan digital.
Di depan booth, seorang pedagang es buah tampak antusias berkonsultasi. Ia mengaku sering kewalahan menyediakan uang kembalian saat pembeli membludak menjelang azan magrib. Sejak menggunakan QRIS, persoalan itu berkurang drastis. “Lebih praktis, tidak perlu repot cari uang kecil,” katanya.
Fenomena ini sejalan dengan tren transaksi digital yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ramadhan, dengan lonjakan konsumsi yang signifikan, menjadi panggung ideal untuk mempercepat adopsi pembayaran non-tunai. Kehadiran QRIS di bazar memudahkan pembeli bertransaksi tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar—sebuah kenyamanan sekaligus jaminan keamanan.
Pendekatan langsung ke pusat aktivitas warga menjadi kunci. Alih-alih menunggu nasabah datang ke kantor cabang, BRI memilih hadir di tengah keramaian, membuka ruang konsultasi, sekaligus membantu aktivasi layanan di tempat. Strategi ini mencerminkan perubahan wajah perbankan yang semakin adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Bagi pelaku usaha, manfaatnya tak berhenti pada kemudahan pembayaran. Transaksi tercatat otomatis, memudahkan pencatatan keuangan, dan membuka peluang akses pembiayaan di masa depan. Digitalisasi, yang dulu dianggap rumit, kini menjadi kebutuhan praktis sehari-hari.
Di Bekasi, Ramadhan tahun ini tak hanya menghadirkan keberkahan spiritual, tetapi juga menandai pergeseran perilaku ekonomi masyarakat. Dari genggaman ponsel dan kode QR di meja takjil, transformasi itu berlangsung senyap namun nyata.
Bagi BRI Branch Office Bekasi, Ramadhan bukan sekadar momentum musiman. Ia menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan teknologi—di mana sedekah, silaturahmi, dan transaksi digital berjalan beriringan dalam denyut ekonomi kota. (IB)



















