TPA Burangkeng Tak Lagi Bau Masalah? Saeful Islam Gaskeun Program Ubah Sampah Jadi Energi

POLITIK119 BACA

CIKARANG PUSAT — Bau menyengat yang selama bertahun-tahun menjadi “aroma khas” di sekitar TPA Burangkeng perlahan ingin dihapus dari ingatan warga Kabupaten Bekasi. Gunungan sampah yang setiap hari terus meninggi kini tak lagi dipandang sekadar limbah, melainkan potensi energi dan peluang perubahan besar bagi masa depan lingkungan.

Harapan itu mulai menemukan bentuk nyata ketika Pemerintah Kabupaten Bekasi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PT Asiana Technologies Lestary terkait pengolahan sampah melalui program landfill mining dan Refuse Derived Fuel (RDF), Rabu (13/05/2026).

Penandatanganan yang berlangsung di Ruang Rapat KH Raden Mamun Nawawi, Gedung Bupati Bekasi, Cikarang Pusat, bukan hanya seremoni administratif biasa. Di balik jabat tangan dan dokumen yang diteken, tersimpan misi besar: mengubah wajah pengelolaan sampah Kabupaten Bekasi yang selama ini dinilai tertinggal oleh laju pertumbuhan kawasan industri dan permukiman.

Anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Saeful Islam, menjadi salah satu pihak yang menyambut penuh optimisme kerja sama tersebut. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar proyek teknis pengolahan sampah, tetapi titik awal perubahan pola pikir dalam menghadapi krisis lingkungan yang terus membayangi Kabupaten Bekasi.

“Persoalan sampah sudah tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara-cara lama. Volume sampah terus bertambah setiap hari, sementara kapasitas penampungan terbatas. Kalau tidak ada terobosan, dampaknya akan semakin besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Di mata Saeful, keberanian Pemkab Bekasi menggandeng pihak swasta melalui teknologi RDF dan landfill mining menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai serius keluar dari pola pengelolaan konvensional yang selama ini hanya menumpuk sampah tanpa solusi jangka panjang.

Burangkeng dan Luka Panjang Persampahan

TPA Burangkeng selama bertahun-tahun menjadi simbol peliknya persoalan sampah di Kabupaten Bekasi. Truk-truk pengangkut limbah rumah tangga datang silih berganti setiap hari, membawa ribuan ton sampah dari kawasan permukiman, pasar, hingga industri.

Di musim hujan, genangan air bercampur lindi kerap memicu keluhan warga. Saat kemarau datang, bau menyengat dan asap pembakaran liar menjadi ancaman kesehatan yang tak pernah benar-benar hilang.

Bagi warga sekitar, hidup berdampingan dengan TPA bukan perkara mudah. Sebagian sudah terbiasa, sebagian lain memilih pasrah. Namun di tengah kondisi itu, harapan terhadap perubahan tak pernah benar-benar padam.

Program landfill mining yang kini mulai dijalankan diyakini dapat menjadi jawaban atas persoalan klasik tersebut. Teknologi ini memungkinkan timbunan sampah lama digali kembali, dipilah, lalu diolah sehingga area penumpukan bisa dikurangi secara bertahap.

Sementara RDF menjadi pendekatan yang lebih modern. Sampah yang sebelumnya dianggap tak bernilai akan diolah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara untuk kebutuhan industri.

Konsep itu dinilai mampu memberikan dua manfaat sekaligus: mengurangi volume sampah dan menciptakan nilai ekonomi dari limbah.

Dari Sampah Menjadi Energi

Kabupaten Bekasi bukan daerah kecil. Sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia, aktivitas ekonomi dan pertumbuhan penduduk menghasilkan volume sampah yang terus meningkat setiap tahun.

Di sisi lain, kebutuhan energi industri juga sangat besar. Di titik inilah RDF dianggap memiliki peluang strategis.

Melalui teknologi RDF, sampah diproses menjadi bahan bakar dengan nilai kalor tertentu yang dapat digunakan oleh industri semen maupun sektor manufaktur lainnya.

Artinya, sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari konsumsi masyarakat, tetapi menjadi bagian dari rantai energi baru.

Saeful Islam menilai transformasi ini penting untuk menjawab tantangan masa depan. Menurutnya, daerah tidak boleh terus bergantung pada metode open dumping atau sekadar memperluas lahan TPA.

“Kalau hanya menumpuk sampah, cepat atau lambat lahan akan habis. Karena itu kita perlu teknologi yang bisa mengurangi volume sekaligus memberi manfaat ekonomi,” katanya.

Ia juga berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada seremoni dan wacana semata. DPRD, kata dia, akan terus mengawal implementasi program agar benar-benar berjalan sesuai tujuan. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *