Putus Asa Berdoa? Belajarlah dari Siti Hajar

ADVERTORIAL3,782 BACA

Ketika Nabi Ibrahim AS meninggalkan istrinya Siti Hajar dan anaknya yang masih bayi Ismail di lembah Bakka, ada rasa kekhawatiran Siti Hajar. Saking khawatirnya, Ia menanyakan kepada suaminya itu, apakah itu merupakan perintah Allah SWT? Lalu Ibrahim menjawab “Ya”. Dengan jawaban itu, barulah ada rasa ketenangan Siti Hajar ditinggalkan suaminya itu dilembah Bakka bersama putranya.

Lembah Bakka dikenal sebagai lembah yang gersang dan tidak ada pohon. Dengan begitu, lembah ini bisa disebut sebagai lembah kematian karena tidak ada satu pun pohon yang tumbuh.

Saat ditinggal Ibrahim, Ismail kecil langsung menangis karena kehausan. Disaat itu, Siti Hajar langsung berusaha mencarikan air untuk anaknya. Dia mencoba berlalu ke bukit Safa dan Marwa, karena saat itu, Hajar seperti melihat adanya gedangan air di dua bukti itu. Padahal hanya fatamorgana.

Hajar pun tak patah semangat. Apalagi saat Ia melihat putranya terus menangis. Dia terus bolak balik mencari air antara dua bukit tersebut. Namun setelah tangisan putranya tak mau berhenti, ia melihat dari kaki Ismail keluar air yang sangat jernih. Sampai sekarang air itu terus mengalir dan dikenal dengan air Zamzam.

Dari kegigihan Hajar tersebut mencari air untuk putranya, dapat diambil pelajaran mengenai pentingnya doa dan ikhtiar. Doa merupakan permohonan yang disampaikan kepada Sang Pencipta diiringin dengan keyakinan bahwa Allah akan mengijabah doa hambanya. Sementara ikhitar merupakan usaha kita untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Dalam surat At-Taubah ayat 105 Allah berfirman : “Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Ar Ra’du ayat II Allah berfirman : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Kalau sudah berdoa dan ikhtiar namun tak membuahkan hasil yang diharapkan janganlah berputusa asa. Sebab, apa yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita. Sebaliknya apa yang kita tidak suka, malah baik untuk kita.

Pada surat Al-Baqoroh ayat 216 Allah berfirman : “…….Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *