Dapur Panas, Target Ganas! Bekasi Kejar Gizi, Tantangan Belum Tuntas

PEMERINTAHAN117 BACA

CIKARANG PUSAT — Pemerintah Kabupaten Bekasi tancap gas mendukung program makan bergizi di tengah sorotan soal kualitas kesehatan masyarakat. Komitmen itu ditegaskan dalam Festival Aspirasi Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI bertema “Dari Dapur ke Masa Depan” di Gedung Wibawa Mukti, Senin (20/4/2026).

Pesan tegas disampaikan Plt Bupati Bekasi dr. Asep Surya Atmaja melalui Sekda Endin Samsudin. Pemenuhan gizi disebut bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan generasi masa depan.

“Dapur jadi titik awal. Dari situ kualitas generasi ditentukan,” kata Endin di hadapan peserta forum.

Data terbaru menunjukkan skala program ini tidak kecil. Sebanyak 453.594 anak PAUD hingga SMP sudah menerima manfaat makan bergizi gratis. Selain itu, 10.370 ibu hamil dan 19.891 ibu menyusui ikut masuk dalam sasaran program, terutama pada fase krusial seribu hari pertama kehidupan.

Di lapangan, Pemkab Bekasi mengandalkan 282 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 23 kecamatan dan 90 desa. Namun, baru 92 unit yang mengantongi sertifikasi laik higiene sanitasi. Artinya, masih ada pekerjaan rumah besar yang belum tuntas.

Meski belum ditemukan kasus keracunan, pemerintah daerah mengakui celah tetap ada. Mulai dari rantai pasok bahan baku yang belum efisien, sertifikasi yang belum merata, hingga pengelolaan limbah makanan yang masih amburadul.

“Kami dorong percepatan regulasi agar program ini punya dasar kuat dan tidak berjalan setengah-setengah,” tegasnya.

Di sisi lain, DPR RI ikut memberi tekanan. Anggota Komisi IX, H. Obon Tabroni, menilai program ini bukan sekadar urusan perut, tapi menyangkut masa depan sumber daya manusia dan ketahanan pangan nasional.

“Ini investasi jangka panjang. Jangan sampai program besar tapi pelaksanaannya kedodoran,” ujarnya.

Pemkab Bekasi kini didorong memperkuat ekosistem lokal dengan melibatkan petani, peternak, UMKM, hingga BUMDes agar rantai pasok lebih stabil. Tanpa pembenahan serius, program ambisius ini berisiko tersendat di tengah jalan.

Dengan jumlah penduduk mencapai 3,5 juta jiwa, Bekasi tak punya banyak waktu. Program makan bergizi bukan sekadar seremoni—ini ujian nyata: apakah dapur mampu menyelamatkan masa depan, atau justru kolaps di tengah jalan. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *