Antara Doa dan Penantian: 3.300 Jemaah Bekasi Siap Tunaikan Ibadah Haji

PEMERINTAHAN187 BACA

Suasana Masjid Raya Al-Azhar Jababeka pada Kamis pagi, 2 April 2026, tampak berbeda. Ratusan calon jemaah haji dari berbagai penjuru Kabupaten Bekasi memenuhi area masjid dengan wajah penuh harap. Di tengah lantunan doa dan penjelasan para pembimbing, terselip satu pesan yang terus digaungkan: ibadah haji bukan sekadar perjalanan, melainkan kesiapan total—fisik, mental, dan spiritual.

Di hadapan para calon tamu Allah itu, Pelaksana Tugas Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, menegaskan bahwa bimbingan manasik haji bukan sekadar formalitas sebelum keberangkatan. Ia menyebutnya sebagai “bekal utama” yang menentukan kualitas ibadah jemaah di Tanah Suci.

“Manasik haji ini sangat penting agar para calon jemaah memiliki pemahaman yang utuh, baik terkait tata cara ibadah maupun kesiapan mental dan spiritual,” ujarnya.

Antara Antusiasme dan Penantian Panjang

Tahun ini, Kabupaten Bekasi akan memberangkatkan lebih dari 3.300 jemaah haji—menjadikannya salah satu daerah dengan jumlah jemaah terbanyak di Jawa Barat. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan tingginya animo masyarakat untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Namun, di balik semangat tersebut, tersimpan kisah panjang penantian. Banyak jemaah yang baru mendapat kesempatan berangkat setelah menunggu lebih dari satu dekade. Mereka yang mendaftar pada 2013–2014, kini akhirnya bersiap menapakkan kaki di Tanah Suci.

“Ini menunjukkan minat masyarakat sangat tinggi. Tapi sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan haji juga mengajarkan kesabaran,” kata Asep.

Kesehatan Jadi Kunci Utama

Di tengah rangkaian materi manasik, isu kesehatan menjadi perhatian serius. Asep secara khusus mengingatkan para jemaah untuk tidak mengabaikan kondisi fisik, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi, kolesterol, atau asam urat.

Menurutnya, ibadah haji menuntut stamina prima. Aktivitas fisik yang intens, cuaca ekstrem, hingga kepadatan jemaah menjadi tantangan tersendiri yang harus diantisipasi sejak jauh hari.

“Mulai sekarang jaga kesehatan. Rutin periksa dan manfaatkan fasilitas kesehatan, termasuk BPJS. Jangan tunggu sampai berangkat,” pesannya.

Selain itu, ia juga mengimbau agar jemaah menjaga pola makan, cukup istirahat, serta membawa obat-obatan pribadi sebagai langkah preventif selama di Tanah Suci.

Manasik sebagai Fondasi Ibadah

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, Mulyono Hilman Hakim, menjelaskan bahwa pelaksanaan manasik haji memiliki dasar hukum yang kuat dan dirancang untuk meningkatkan kualitas jemaah secara menyeluruh.

“Manasik haji bertujuan agar jemaah memahami ibadah sesuai tuntunan agama dan mampu meraih haji yang mabrur,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembinaan dilakukan secara bertahap, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Total, ada 13 titik pelaksanaan dengan beberapa kali pertemuan, sebelum ditutup dengan manasik terintegrasi tingkat kabupaten.

Tak hanya membekali pengetahuan teknis, manasik juga diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai kemabruran yang diharapkan tetap terjaga sepulang dari Tanah Suci.

Tantangan Kuota dan Panjangnya Daftar Tunggu

Di sisi lain, persoalan klasik kembali mencuat: panjangnya daftar tunggu haji. Saat ini, tercatat hampir 66 ribu calon jemaah di Kabupaten Bekasi masih menanti giliran, dengan estimasi waktu tunggu mencapai 26 hingga 30 tahun.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dan Kementerian Agama. Harapan pun disampaikan agar kuota haji ke depan dapat ditingkatkan.

“Kami berharap kuota haji dapat bertambah agar masa tunggu tidak terlalu panjang,” kata Mulyono.

Menjaga Nama Baik Daerah

Lebih dari sekadar ibadah personal, Asep juga mengingatkan bahwa setiap jemaah membawa identitas daerah. Ia berpesan agar para jemaah menjaga sikap selama di Tanah Suci—disiplin, tertib, dan saling membantu.

“Jadilah duta daerah yang mencerminkan akhlak mulia,” tuturnya.

Pesan itu menjadi penutup yang menguatkan makna perjalanan haji: bukan hanya tentang tiba di Tanah Suci, tetapi juga tentang bagaimana kembali dengan nilai-nilai yang lebih baik.

Dengan jadwal keberangkatan yang dimulai pada 23 April 2026 hingga pertengahan Mei secara bertahap, ribuan jemaah Kabupaten Bekasi kini bersiap menapaki perjalanan spiritual terbesar dalam hidup mereka—membawa harapan pulang dengan satu predikat yang diidamkan: haji yang mabrur. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *