CIKARANG SELATAN – Bagi sebagian anak muda, kesehatan sering kali bukan prioritas utama. Namun tidak demikian bagi Nada Kurnia (24), mantan mahasiswi yang kini tengah menantikan peluang kerja. Di tengah aktivitas kampus yang padat dan dinamika hidup di kota besar, Nada menyadari bahwa risiko sakit bisa datang kapan saja. Karena itulah, ia merasa beruntung telah menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak 2019.
Nada dan keluarganya terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dengan layanan kelas rawat 3. Menurut perempuan kelahiran 18 Januari 2001 itu, keputusan orang tuanya mendaftarkan seluruh anggota keluarga ke JKN merupakan langkah tepat untuk memastikan adanya perlindungan kesehatan ketika dibutuhkan.
“Saya sadar, walau masih muda, kita tetap bisa sakit. Saya tidak mau kalau nanti butuh berobat tapi tidak punya uang. Makanya, saya merasa aman punya JKN,” ujar Nada saat ditemui Tim Jamkesnews.
Kesadaran itu semakin kuat ketika ia mengalami demam tinggi saat masih kuliah. Kondisi tubuhnya yang melemah membuat Nada harus absen dari perkuliahan dan segera memeriksakan diri ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) menggunakan JKN. Ia mengaku sangat terbantu, terutama karena saat itu belum memiliki penghasilan.
“Saya datang ke puskesmas dan menunjukkan kartu JKN. Petugas langsung melayani dengan baik, prosesnya cepat. Saya tidak keluar uang sama sekali dan langsung dapat obat. Jujur, waktu itu saya belum punya cukup uang untuk berobat. Tapi karena peserta JKN, semuanya jadi lebih ringan. Itu benar-benar menyelamatkan,” kenangnya.
Manfaat JKN juga dirasakan oleh hampir seluruh anggota keluarganya. Ibunya yang mengidap mag akut kerap harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, terutama saat kambuh pada malam hari. Sang ayah pun pernah mengalami cedera kaki saat bekerja dan membutuhkan penanganan medis segera. Dalam kondisi genting seperti itu, JKN menjadi penopang utama bagi keluarga mereka.
“Kalau bukan peserta JKN, pasti sangat berat. Pengeluaran untuk kejadian mendadak seperti itu besar sekali. Tapi karena sudah terdaftar, kami lebih tenang,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara tersebut.
Selain layanan kesehatan, Nada juga memanfaatkan aplikasi Mobile JKN untuk kebutuhan administratif. Menurutnya, aplikasi ini sangat membantu anak muda yang menginginkan layanan cepat dan praktis.
“Dengan Mobile JKN, saya bisa cek status kepesertaan, data faskes, sampai riwayat kunjungan. Tidak perlu datang ke kantor BPJS Kesehatan. Aplikasinya mudah digunakan dan semua informasi lengkap,” kata Nada.
Ia mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan, baik di puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya. Menurutnya, layanan bagi peserta JKN tidak pernah dibedakan dan selalu diberikan dengan baik.
“Selama saya pakai BPJS Kesehatan, semuanya lancar. Pelayanan bagus, tidak dibedakan antara pasien umum dan peserta JKN. Program ini benar-benar membantu, terutama untuk masyarakat yang punya keterbatasan biaya,” ujarnya.
Nada berharap BPJS Kesehatan terus meningkatkan kualitas layanan agar manfaatnya dapat dirasakan semakin luas oleh masyarakat.
“Semoga BPJS Kesehatan terus berkembang dan jaya selalu,” tutupnya dengan penuh optimisme. (**)



















