Gentong Sampah yang Tak Lagi Menutup Bau

PEMERINTAHAN270 BACA

Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi

Pagi di sejumlah perumahan Kabupaten Bekasi tak lagi dimulai dengan sapuan jalan dan sapaan tetangga. Yang lebih dulu menyergap adalah bau. Dari depan rumah, gentong-gentong sampah menganga, tak sanggup lagi menampung limbah rumah tangga yang terus bertambah setiap hari. Plastik besar menggantikan fungsi tempat sampah—diikat rapat, disusun seadanya, menunggu diangkut entah kapan.

Sudah beberapa hari mobil pengangkut sampah tak kunjung datang. Tumpukan limbah pun menjadi pemandangan lumrah di depan rumah warga. Sisa makanan, plastik pembungkus, hingga popok bayi bercampur menjadi satu. Kekhawatiran mulai muncul, bukan hanya soal estetika lingkungan, tetapi ancaman kesehatan yang mengintai.

“Setiap hari nambah. Bau sudah mulai terasa, apalagi kalau hujan,” ujar seorang warga di kawasan perumahan Tambun, yang memilih tak disebutkan namanya. Ia dan warga lain khawatir tumpukan sampah akan mengundang lalat, tikus, dan penyakit.

Di tengah keresahan itu, beredar kabar bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng ditutup. Informasi tersebut makin menambah kecemasan warga, yang berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi segera turun tangan. Harapan mereka sederhana: sampah diangkut, lingkungan kembali layak huni.

Ajakan Mengurangi, di Tengah Tumpukan

Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memilih jalur imbauan. Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), periode yang dikenal sebagai masa lonjakan produksi sampah, DLH mengajak masyarakat untuk mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.

Humas DLH Kabupaten Bekasi, Dedi Kurniawan, mengingatkan potensi penumpukan sampah di berbagai titik aktivitas masyarakat—mulai dari rest area, tempat wisata, hingga pusat kuliner.

“Sering kali sampah menumpuk di perjalanan. Padahal kita bisa menguranginya dengan membawa wadah makan dan minum sendiri, serta tidak bergantung pada barang sekali pakai,” kata Dedi dalam keterangan tertulis, Jumat, 26 Desember 2025.

DLH juga mendorong masyarakat lebih bijak dalam merayakan Nataru. Dekorasi perayaan yang berlebihan dan sulit terurai, menurut Dedi, justru meninggalkan persoalan baru setelah euforia berakhir.

“Gunakan dekorasi yang sederhana dan bisa digunakan kembali. Perayaan tetap khidmat tanpa harus menambah beban sampah,” ujarnya.

Di Antara Kesadaran dan Kenyataan

Bagi warga yang saban hari berhadapan dengan tumpukan sampah di depan rumah, imbauan itu terdengar ideal—namun terasa jauh dari kenyataan. Kesadaran mengurangi sampah memang penting, tetapi persoalan pengangkutan tetap menjadi kebutuhan mendesak.

Dedi menegaskan pengurangan sampah plastik bukan soal tindakan besar dalam waktu singkat, melainkan konsistensi kebiasaan sehari-hari. Menolak plastik sekali pakai, kata dia, adalah investasi jangka panjang bagi lingkungan.

“Setiap langkah kecil adalah kontribusi nyata. Mari jadikan perayaan Nataru sebagai momentum untuk menghentikan polusi plastik dan menjaga bumi tetap lestari,” ujarnya.

Di Kabupaten Bekasi, gentong-gentong sampah masih menunggu. Di balik ajakan kesadaran lingkungan, warga berharap solusi yang lebih konkret: truk sampah kembali beroperasi, dan bau tak lagi menjadi penanda pagi. Feature ini mencatat satu ironi klasik—ketika kesadaran diminta tumbuh, sementara sampah terlanjur menumpuk di depan rumah. (IB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *