Indah, Peneliti Muda dan Rasa Aman Bernama JKN

EKBIS322 BACA

Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi

Di antara ritme kerja yang padat dan aktivitas sosial yang menuntut kehadiran penuh, Indah Hurun Hayana menempatkan kesehatan sebagai prioritas. Usianya baru 24 tahun, tetapi kesadarannya tentang perlindungan kesehatan terbilang matang. “Kita tidak pernah tahu kapan tubuh bermasalah,” katanya pelan.

Indah, perempuan kelahiran 1 Oktober, saat ini bekerja sebagai peneliti sekaligus berkontribusi di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Sejak 2017, ia telah tercatat sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Keputusan itu ia ambil bukan karena sedang sakit, melainkan sebagai langkah berjaga-jaga menghadapi risiko di masa depan.

Sebagai peserta JKN segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) kelas 3, Indah merasa iuran yang dibayarkan sepadan dengan manfaat yang diterima. Dengan biaya terjangkau, ia tetap memperoleh akses layanan kesehatan yang luas. Sehari-hari, ia kerap memanfaatkan layanan di salah satu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di sekitar Kabupaten Bekasi.

“Waktu daftar JKN, niat saya sederhana. Supaya kalau suatu saat sakit, saya tidak panik dan tidak terbebani biaya,” ujar Indah, Rabu (29/10). “Dan itu benar-benar saya rasakan manfaatnya.”

Manfaat itu terasa nyata ketika Indah mengalami iritasi mata. Matanya memerah, terasa perih, dan cukup mengganggu aktivitas. Di waktu lain, ia juga menghadapi persoalan siklus haid yang tidak teratur—kondisi yang memicu kecemasan tersendiri. Kekhawatiran akan kemungkinan gangguan kesehatan membuatnya memutuskan berkonsultasi dengan dokter, termasuk dokter spesialis kandungan.

“Awalnya ragu juga,” katanya. “Tapi karena ada JKN, saya jadi berani periksa. Setidaknya rasa cemas berkurang.”

Pengalaman itu menguatkan pandangannya bahwa JKN bukan sekadar program administratif, melainkan jaring pengaman yang memberi keberanian untuk mengambil keputusan medis. Tanpa harus memikirkan biaya besar, Indah bisa fokus pada pemulihan dan menjaga kesehatannya.

Meski demikian, Indah tak menutup mata pada sejumlah catatan. Salah satunya soal waktu tunggu dan antrean pelayanan administrasi. Menurutnya, masih banyak waktu yang terbuang hanya untuk mengurus dokumen atau menunggu giliran. “Dari sisi biaya, JKN sangat membantu. Tapi pelayanan harus makin efisien dan efektif,” ujarnya.

Untuk mempermudah urusan, Indah juga memanfaatkan Aplikasi Mobile JKN. Melalui aplikasi itu, ia bisa mengecek status kepesertaan, mencari fasilitas kesehatan, mengubah data, hingga melakukan skrining riwayat kesehatan. Bagi Indah, layanan digital semacam ini sangat relevan dengan kebutuhan generasi muda.

“Aplikasinya praktis. Tapi akan lebih lengkap kalau ke depan JKN juga terintegrasi dengan layanan konsultasi online atau telemedisin,” katanya. “Itu akan sangat membantu, terutama untuk kondisi ringan atau konsultasi awal.”

Bagi Indah, JKN telah memberi rasa aman di tengah ketidakpastian. Di usia muda, ketika masa depan masih panjang dan risiko kesehatan bisa datang tanpa tanda, perlindungan semacam ini menjadi pegangan. Sebuah ikhtiar agar generasi produktif tetap bisa melangkah tanpa dihantui kekhawatiran akan biaya berobat. (IB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *