Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi
Di sebuah rumah sederhana di Cikarang, Euis Nurhasanah merapikan seragam kerjanya sebelum berangkat. Usianya 33 tahun, rutinitasnya padat, dan seperti banyak pekerja lain di kawasan industri, kesehatan adalah modal utama. “Kalau badan drop, semua jadi berat,” katanya suatu siang akhir Oktober.
Bagi Euis, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bukan sekadar kartu di dompet. Program yang diselenggarakan BPJS Kesehatan itu menjadi penopang ketika biaya pengobatan terasa mencekik—terutama saat kondisi keuangan keluarga sedang tak longgar.
Ia pertama kali tercatat sebagai peserta JKN karena kewajiban perusahaan tempatnya bekerja. Kala itu, manajemen perusahaan menggelar sosialisasi singkat: seluruh karyawan wajib terdaftar. “Awalnya saya pikir formalitas,” ujar Euis, Rabu (29/10). “Ternyata manfaatnya terasa.”
Sejak terdaftar, Euis mengaku tak pernah menemui kendala berarti saat mengakses layanan kesehatan. Prosedur berjalan sesuai aturan, administrasi relatif mudah, dan rujukan berjenjang membantu memastikan perawatan sesuai kebutuhan medis. “Kalau sakit, saya jadi lebih tenang. Tidak khawatir soal biaya,” katanya.
Pengalaman di fasilitas kesehatan juga meninggalkan kesan baik. Petugas dinilainya ramah dan membantu. Bagi Euis, sistem JKN membuat pekerja bisa fokus bekerja tanpa dibayangi ketakutan akan ongkos berobat. “Terutama bagi kami yang mudah lelah karena tuntutan pekerjaan,” ucapnya.
Lebih dari perlindungan individu, Euis menyoroti dampak JKN bagi keluarga. Kepesertaan yang mencakup anggota keluarga, menurutnya, menjadi bantalan sosial di tengah kenaikan biaya medis dari tahun ke tahun. “Ini benar-benar meringankan,” katanya.
Tentu masih ada catatan. Euis berharap kualitas layanan terus ditingkatkan, antrean kian tertib, dan waktu tunggu semakin singkat. Namun, penilaiannya tetap positif. “Secara keseluruhan, program ini sudah sangat baik dan semoga terus berlanjut,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Euis menyampaikan ajakan. Bagi para pekerja yang belum terdaftar, ia menilai JKN sebagai wujud gotong royong di bidang kesehatan—perlindungan bersama yang dibayar dengan iuran terjangkau. “Ketika kita butuh, manfaatnya terasa. Perlindungan seumur hidup itu luar biasa,” katanya.
Di Cikarang dan kota-kota industri lain, cerita Euis barangkali bukan satu-satunya. Namun dari kisah-kisah semacam inilah, wajah JKN tampak: program yang pelan-pelan memberi rasa aman bagi para pekerja, agar tetap berdiri tegak menghadapi hari esok. (IB)



















