Iran Umumkan Masa Berkabung 40 Hari Atas Gugurnya Imam Ali Khamenei

PEMERINTAHAN336 BACA

Teheran, Iran

Teheran terbangun dalam warna hitam. Spanduk duka membentang di jalan-jalan utama, doa menggema dari masjid-masjid, dan ribuan orang tumpah ke ruang publik membawa potret sang pemimpin. Iran resmi memasuki masa berkabung 40 hari setelah Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, tewas dalam serangan berkelanjutan yang dituduhkan kepada Amerika Serikat dan Israel.

Media pemerintah menyebut serangan Sabtu itu juga menewaskan sejumlah pejabat keamanan tinggi, serta putri, menantu, dan cucu Khamenei—sebuah pukulan yang disebut sebagai yang paling signifikan terhadap kepemimpinan Iran sejak Revolusi Islam 1979.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut pembunuhan tersebut sebagai “kejahatan besar” dan menetapkan tujuh hari libur nasional di luar masa berkabung 40 hari. Dalam pernyataannya, ia menyerukan persatuan nasional di tengah situasi yang masih dibayangi serangan udara dan ancaman eskalasi.

Duka di Tengah Ledakan

Dari Teheran, koresponden Al Jazeera, Tohid Asadi, melaporkan gelombang massa yang memenuhi jalan-jalan ibu kota tak lama setelah kabar kematian diumumkan. “Akan ada upacara yang diharapkan,” katanya, seraya menambahkan bahwa prosesi penghormatan kemungkinan berlangsung di tengah pemboman yang terus berlanjut di sejumlah wilayah.

Rekaman yang ditayangkan media pemerintah memperlihatkan suasana haru di kompleks makam Imam Reza di Mashhad. Sejumlah pelayat terlihat menangis tersedu, sebagian jatuh terduduk, memeluk sesama dalam kesedihan yang mendalam. Doa-doa panjang dibacakan, seolah mencoba menahan guncangan sejarah yang baru saja terjadi.

Protes mengecam pembunuhan itu juga dilaporkan di Shiraz, Yasuj, dan Lorestan. Di sejumlah kota, massa membawa bendera nasional dan poster bertuliskan seruan balasan. Suara azan dan takbir bersahut-sahutan dengan teriakan kemarahan.

Gema di Luar Perbatasan

Duka dan kemarahan tak berhenti di Iran. Irak menetapkan tiga hari berkabung nasional. Di Baghdad, demonstran bergerak menuju Zona Hijau—kawasan yang menampung gedung-gedung pemerintah dan kedutaan asing. Rekaman video yang diverifikasi oleh Al Jazeera menunjukkan para pengunjuk rasa mengibarkan bendera dan meneriakkan slogan, sebagian mencoba mendekati Kedutaan Besar AS sebelum dihadang aparat keamanan.

Di kota Karachi, Pakistan, gelombang protes juga terjadi. Video yang beredar memperlihatkan massa membakar dan merusak jendela konsulat AS. Asap hitam membumbung di atas kerumunan, menjadi simbol kemarahan yang melintasi batas negara.

Sebuah Titik Balik

Pembunuhan Khamenei bukan sekadar peristiwa militer; ia adalah momen yang mengguncang fondasi politik dan psikologis Iran. Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei memegang otoritas tertinggi, menjadi simbol kesinambungan revolusi dan perlawanan terhadap Barat. Kini, dalam suasana duka yang dibalut ancaman perang terbuka, Iran berdiri di persimpangan sejarah.

Empat puluh hari ke depan akan dipenuhi ritual, doa, dan kemungkinan manuver politik yang menentukan arah republik itu. Di tengah deru sirene dan bayang-bayang konflik, satu hal terasa pasti: babak baru telah dimulai—dan dunia menahan napas menyaksikannya. (IB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *