KABUPATEN BEKASI – Anggota DPRD Jawa Barat Faizal Hafan Farid meminta pemeritah serius menyikapi harga daging sapi yang terus melambung tinggi menjelang Ramadhan. Saat ini, harga daging sapi terus berangsur naik dan para pedagang daging pun kecewa dengan melakukan aksi mogok dagang.
“Ya naiknya harga daging sapi itu kan sudah menjadi tradisi setiap menjelang hari besar. Dan dari dulu tidak ada langkah baik dari pemerintah menyikapi masalah ini sehingga kenaikan harga daging menjadi masalah yang terus berulang,” ujar Faizal pada Rabu (03/03).
Harga daging minggu ini terus merangkak naik dari Rp 110 ribu per kilo menjadi Rp 140 ribu pada Rabu (03/03). Bahkan dibeberapa daerah, pada pedagang daging kompak melakukan aksi mogok jualan selama lima hari.
Kondisi tersebut membuat anggota komisi II DPRD Jawa Barat itu meminta pemerintah melakukan pembenahan dari hulu, seperti membenahi problem para peternak sapi local. Sampai saat ini, harga daging local lebih mahal ketimbang impor.
Selain itu juga, pasokan daging sapi local baru memenuhi 20 persen kebutuhan pasar dan sisanya mengandalkan impor dari Australia. Dari local, wilayah yang menjadi sentra produksi daging sapi seperti NTB, NTT dan Jawa Timur.
Untuk konsumsi daging terbesar di Indonesia yaitu provinsi Jawa Barat 3,47 kilogram per kapita per tahun. Secara nasional, total konsumsi daging sapi dan kerbau Indonesia sebesar 717.150 ton per tahun atau setara 2,66 kilogram per kapita per tahun.
“Ya pasokan sapi dalam negeri lebih banyak namun harga mahal, pemeliharaan mahal, peternaknya juga skalanya kecil,” katanya.
Faizal menilai butuh keseriusan dari pemerintah untuk memberikan perhatian terhadap para peternak local. Mulai dari penyediaan bibit sapi serta pasokan makanan yang harus mendapatkan perhatian.
“Jika perlu ya ada subsidi bagi para peternak sapi, mulai dari pakannya dengan harga terjangkau. Bahkan bibit sapi pun harus diperhatikan agar kualitas sapi local terus meningkat dan tidak kalah dengan sapi-sapi impor dari Australia,” katanya.
Tak hanya itu, Faizal juga menyorot terkait alur distribusi daging sapi dari peternak ke pedagang. Daging sapi tidak diterima para pedagang dari peternak langsung, tetapi dari para pemodal yang membeli sapi dari peternak.
Setelah itu, sapi dipotong dan dijual kepada para pedagang daging sapi dipasaran. Disitu, ada beberapa tingkatan distribusi penjualan daging yang harus dipotong agar harga jual di masyarakat tidak terlalu tinggi.
“Ada pembenahan, kalau beli daging dari peternak langsung kan lebih murah, disbanding dari pengepul sapinya. Nah, jadi persoalan daging sapi ini harus serius mulai dari pembenahan hulu sampai distribusi dari peternak, pedagang lalu ke masyarakat,” tandasnya. (IB)



















