Sekda Bekasi Angkat Bicara: Sekolah Harus Nyaman, Bukan Sarang Masalah

PENDIDIKAN49 BACA

Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi

Halaman SMPN 1 Tambun Selatan tak sekadar menjadi lokasi upacara. Sabtu pagi itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kabupaten Bekasi berubah menjadi panggung penegasan arah: pendidikan tak lagi cukup berjalan, tapi harus melompat.

Di tengah barisan siswa berseragam rapi, Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Endin Samasudin, menyampaikan pesan yang terdengar klasik—namun tetap relevan dan belum sepenuhnya tuntas: sekolah harus menjadi “rumah kedua”.

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Di banyak kasus, ruang kelas masih menyisakan jarak antara guru dan murid, bahkan tak jarang kehilangan esensi sebagai tempat tumbuhnya karakter. Endin menyoroti pentingnya hubungan yang lebih dari sekadar formalitas.

“Sekolah harus menjadi tempat yang nyaman. Dari situlah pembentukan karakter dimulai,” ujarnya, menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai, tetapi sikap.

Narasi besar yang dibangun pemerintah daerah pun jelas: mencetak sumber daya manusia unggul tidak bisa instan. Ia harus dimulai dari fondasi—pendidikan dasar dan menengah—yang selama ini justru kerap luput dari perhatian serius.

Namun, di balik optimisme itu, pekerjaan rumah masih menumpuk. Endin tak menutupinya. Ia justru menyoroti persoalan yang lebih mendasar: mental dan moral pelajar. Fenomena kenakalan remaja, perundungan, hingga degradasi etika menjadi bayang-bayang yang belum sepenuhnya hilang dari lingkungan pendidikan.

“Ini tanggung jawab bersama. Tidak bisa hanya sekolah,” tegasnya.

Nada serupa datang dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Imam Faturohman. Ia berbicara tentang masa depan pendidikan yang semakin digital—sebuah keniscayaan yang tak bisa ditawar.

Program digitalisasi pembelajaran dan perbaikan sarana-prasarana disebut sebagai kunci. Namun di lapangan, realitas seringkali tak seideal konsep. Kesenjangan fasilitas antar sekolah, terutama di wilayah pinggiran, masih menjadi tantangan laten.

Meski begitu, Imam tetap optimistis. Ia menyebut tren positif dalam indeks pembangunan manusia (IPM) sebagai sinyal bahwa arah kebijakan mulai menunjukkan hasil.

“Rapor pendidikan kita naik. Ini harus dijaga,” katanya.

Di sisi lain, suara guru—yang selama ini menjadi tulang punggung sistem—ikut mengemuka. Harapan akan kepastian status dan kesejahteraan masih menggantung. Sertifikasi yang kini cair bulanan memang menjadi angin segar, tetapi belum cukup menjawab kegelisahan tenaga honorer dan P3K.

Permintaan pembukaan formasi CPNS yang lebih luas menjadi pesan yang tak bisa diabaikan. Sebab tanpa guru yang sejahtera dan pasti statusnya, sulit berharap kualitas pendidikan akan melonjak signifikan.

Peringatan Hardiknas di Tambun Selatan akhirnya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi cermin: ada kemajuan, tapi juga ada kegelisahan yang belum selesai.

Di tengah ambisi membangun SDM unggul, Bekasi dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar—apakah sistem pendidikan sudah benar-benar siap, atau justru masih berbenah di tempat? (iB)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *